partnership with agoda

Tuesday, February 26, 2019

Pertapaan Kembang Lampir, Tempat Turunnya Wahyu Kerajaan Mataram Islam

BERBICARA Kerajaan Mataram Islam, tidak bisa lepas dari Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Di kabupaten ini terdapat tempat bersejarah yang menjadi cikal bakal atau tempat turunnya wahyu kerajaan Mataram yang kemudian pecah menjadi Keraton Yogyakarta Hadiningrat dan Keraton Surakarta Hadiningrat. 

Pertapaan tersebut adalah Kembang Lampir atau dikenal dengan sebutan Mbang Lampir yang ada di Padukuhan Blimbing, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang. Sebuah desa yang berjarak sekitar 15 km arah barat daya dari Kota Wonosari. Tempat ini dipercaya menjadi tempat yang dianggap sebagai turunnya wahyu Kerajaan Mataram. 
Tempat sakral ini menjadi lokasi Ki Ageng Pemanahan melakukan tapa atau semedi untuk meminta petunjuk mengenai wahyu keraton. Di tempat lain, saudara Ki Ageng Pemanahan, yaitu Ki Ageng Giring III juga melakukan semedi. Kedua keturunan Brawijaya V tersebut melakukan semedi dalam rangka melaksanakan petunjuk Sunan Kalijaga berkelana mengunjungi tempat yang sekarang disebut Gunungkidul.

Ki Bagus Kacung, nama muda Ki Ageng Pemanahan, lantas menempati lokasi yang sebutan awalnya Kembang Semampir. Sedangkan Ki Ageng Giring III bertapa di Sodo, Paliyan. Meski berlainan tempat, keduannya mendapat petunjuk bahwa wahyu keraton terdapat di sebuah kelapa muda/degan dengan sebutan Gagak Emprit dari pohon kelapa yang ditanam Ki Ageng Giring III.

Dalam tapanya, Ki Ageng Pemanahan mendapatkan wahyu untuk segera meminun air kelapa gading yang ditanam Ki Ageng Giring III. Di saat yang bersamaan, Ki Ageng Giring juga tengah melakukan ritual yang sama dan berlainan tempat. Namun dalam wangsit yang sama, akhirnya Ki Ageng Pemanahan yang meminum air kelapa terlebih dahulu sehingga mendapatkan wahyu kerajaan Mataram. 

Setelah bertemu, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Giring III pun membuat kesepakatan. Keturunan Ki Ageng Pemanahan lah yang mendapatkan wahyu menjadi raja kerajaan Mataram. Namun setelah keturunan ke-7, sesuai kesepakatan keduanya, barulah raja berikutnya berasal dari keturunan Ki Ageng Giring III.

Akhirnya kerajaan Mataram dipegang Keturunan Ki Ageng Pemanahan yang diturunkan pada Panembahan Senopati. Kemudian tahta turun-temurun ke Pangeran Hanyokrowati dilanjutkan Sultan Agung Hanyokrokusumo hingga akhirnya pecah di masa Sunan Amangkurat IV. Mataram menjadi Keraton Surakarta Hadiningrat dan Ngayogyakarta Hadiningrat melalui perjanjian Gianti pada 1755.

Saat ini, pertapaan Kembang Lampir dijaga tiga juru kunci, yakni Surakso Sekarsari, Surakso Cempokosari, dan Surakso Puspitosari. Pertapaan menempati sebuah bukit, sehingga untuk sampai ke tempat utama pengunjung harus naik anak tangga hingga sampai ke puncak. "Tempat ini sangat disakralkan, sesuai pesan keraton, pengunjung tidak sembarangan bisa naik, ada beberapa peraturan yang harus ditaati," kata salah satu juru kunci, Surakso Sekarsari atau nama aslinya Trisno Sumarto beberapa waktu lalu.

Beberapa larangan di antaranya, saat naik pengunjung tidak boleh memakai sandal, tidak boleh mengambil gambar atau memotret di lokasi utama, hanya diperbolehkan dari luar pintu gerbang atau dari bawah. Pengunjung yang akan naik harus membawa bunga dan dupa/kemenyan serta tidak boleh memakai pakaian berwarna ungu terong dan hijau lumut. "Aturannya seperti itu, kalau warna baju itu mungkin supaya tidak sama dengan yang menjaga Pantai Parang Kusumo/laut selatan," katanya. 

Sebagai abdi dalem, Surakso Sekarsari bertugas menjaga dan merawat pertapaan menggantikan kakek buyutnya. Untuk waktu berkunjung dia menyebutkan tidak sama seperti pada tempat serupa lainnya. Artinya, tidak harus pada malam Selasa Kliwon atau Jumat kliwon. Meski tidak bertepatan dengan hari-hari tersebut, terkadang lebih ramai.

Lokasi pertapaan Mbang Lampir sangat hening dan nyaman. Dalam perkembangannya, banyak orang mempercayai dan memanfaatkan lokasi ini juga untuk berdoa, menyendiri, sementara meninggalkan hiruk pikuk aktivitas atau laku prihatin. Biasanya menjelang pemilihan bupati, wali kota atau gubernur, tempat ini sangat ramai. Tak hanya dari wilayah Pulau Jawa, dari luar juga banyak. "Sekarang mulai ramai ada juga yang mengaku caleg datang ke sini," ucapnya. 

Bekas tempat bertapa Ki Ageng Pemanahan semacam goa kecil di atas bukit. Di sekitar terdapat bangunan induk sebagai tempat penyimpanan pusaka yang disebut Wuwung Gubug Mataram dan Songsong Ageng Tunggul Naga. "Ada dua buah bangsal atau pendapa kecil bernama Prabayeksa di sebelah kanan dan kiri. Dibangun pula patung Panembahan Senapati, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Mertani, menurut beberapa sumber sebagai pendiri dinasti Mataram Islam," kata Trisno.

Sedangkan pohon-pohon besar yang tumbuh di sekitar pertapaan, sebagian besar ditanam oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, pohon tertua yang masih ada hingga saat ini yakni pohon Sawon.

Ketua Dewan Kebudayaan Gunungkidul, CB Supriyanto mengungkapkan, pertapaan Kembang Lampir merupakan salah satu situs budaya bersejarah. Keberadaan tempat tersebut rusak terus ditata bersama dengan Pemprov DIY. "Wewenang utama di keraton Yogyakarta, tapi semua pihak juga ikut menjaga sehingga situs budaya ini tetap bersih dan juga menjadi bagian dari sejarah Kerajaan Mataram," katanya. 

sumber: sindonews.com

Monday, February 25, 2019

Kisah Syekh Subakir, Penumbal Tanah Jawa

Tak banyak orang tahu dan mengenal nama Syekh Subakir. Padahal Syekh Subakir adalah salah seorang ulama Wali Songo periode pertama yang dikirim khalifah dari Kesultanan Turki Utsmaniyah Sultan Muhammad I untuk menyebarkan agama Islam di wilayah Nusantara.

Syekh Subakir konon adalah seorang ulama besar yang telah menumbal tanah Jawa dari pengaruh negatif makhluk halus saat awal penyebaran ajaran Islam di nusantara. 

Kisahnya dimulai saat Sultan Muhammad I, bermimpi mendapat wangsit untuk menyebarkan dakwah Islam ke tanah Jawa.
Adapun mubalighnya diharuskan berjumlah sembilan orang. Jika ada yang pulang atau wafat maka akan digantikan oleh ulama lain asal tetap berjumlah sembilan.

Sehingga dikumpulkanlah beberapa ulama terkemuka dari seluruh dunia Islam waktu itu. Para ulama yang dikumpulkan tersebut mempunyai keahlian masing-masing. Ada yang ahli tata negara, berdakwah, pengobatan, tumbal atau rukyah, dan lain-lain.

Lalu dikirimlah beberapa ulama ke Nusantara atau tanah Jawa. Namun sudah beberapa kali utusan dari Kesultanan Turki Utsmaniyah yang datang ke tanah Jawa, untuk menyebarkan agama Islam tapi pada umumnya mengalami kegagalan.

Penyebabnya masyarakat Jawa saat itu sangat memegang teguh kepercayaannya. Sehingga para ulama yang dikirim mendapatkan halangan karena meskipun berkembang tetapi ajaran Agama Islam hanya dalam lingkungan yang kecil, tidak bisa berkembang secara luas. 

Selain itu konon, Pulau Jawa saat itu masih merupakan hutan belantara angker yang dipenuhi makhluk halus dan jin-jin jahat.

Lalu diutuslah Syekh Subakir ulama asal Persia yang ahli dalam merukyah, ekologi, meteorologi dan geofisika ke tanah Jawa.

Beliau diutus secara khusus menangani masalah-masalah gaib dan spiritual yang dinilai telah menjadi penghalang diterimanya Islam oleh masyarakat Jawa ketika itu.

Berdasarkan Babad Tanah Jawa, setelah sampai ke nusantara, Syekh Subakir yang menguasai ilmu gaib dan dapat menerawang makhluk halus mengetahui penyebab utama kegagalan para ulama pendahulu dalam menyebarkan ajaran Islam karena dihalangi para jin dan dedemit penunggu tanah Jawa.

Para jin, dedemit dan lelembut tersebut bisa merubah wujud menjadi ombak besar yang mampu menenggelamkan kapal berikut penumpangnya dan menjadi angin puting beliung yang mampu memporakporandakan apa saja yang berada di depannya. 

Selain itu para jin kafir dan bangsa lelembut tersebut juga bisa berubah wujud menjadi hewan buas yang mencelakakan para ulama pendahulu tersebut. 

Untuk mengatasi hal tersebut, konon Syekh Subakir membawa batu hitam dari Arab yang telah dirajah. 

Lalu batu dengan nama Rajah Aji Kalacakra tersebut dipasang di tengah-tengah tanah Jawa yaitu di Puncak Gunung Tidar, Magelang. Karena, Gunung Tidar dipercayai sebagai titik sentral atau pakunya tanah Jawa.

Efek dari kekuatan gaib suci yang dimunculkan oleh batu hitam tersebut menimbulkan gejolak.

Alam yang tadinya cerah dan sejuk, matahari bersinar terang, damai dengan kicau burung. Tiba-tiba berubah drastis selama tiga hari tiga malam. 

Cuaca mendung, angin bergerak cepat, kilat menyambar menimbulkan hujan api. gunung-gunung bergemuruh tiada henti.

Lelembut, setan, siluman lari menyelamatkan diri. Jin, peri, banaspati, kuntilanak, jailangkung, semua hanyut dalam air karena tak kuat menahan panasnya pancaran batu hitam tersebut. Makhluk halus yang masih hidup pun mengungsi ke lautan.

Sebagian jin yang lain ada yang mati akibat hawa panas dari tumbal yang dipasang Syekh Subakir tersebut. 

Melihat hal itu, konon Sabda Palon, raja bangsa jin yang telah 9.000 tahun bersemayam di Puncak Gunung Tidar terusik dan keluar mencari penyebab timbulnya hawa panas bagi bangsa jin dan lelembut. 

Sabda Palon lalu berhadapan dengan Syekh Subakir. Sabda Palon lalu menanyakan maksud pemasangan batu hitam tersebut. 

Sang ulama menyatakan, maksud dia, menancapkan batu hitam itu untuk mengusir bangsa jin dan lelembut yang mengganggu upaya penyebaran ajaran Islam di tanah Jawa oleh para ulama utusan khalifah Turki Utsmaniyah. 

Setelah terjadi perdebatan mereka segera mengadu kesaktian. Konon pertempuran antara keduanya terjadi selama 40 hari 40 malam, hingga Sabda Palon yang juga dikenal sebagai Ki Semar Badranaya sang Danyang tanah Jawa ini merasa kewalahan dan menawarkan perundingan. 

Sabda Palon mensyaratkan beberapa point dalam upaya penyebaran Islam di tanah Jawa. Isi kesepakatan antara lain, Sabda Palon memberi kesempatan kepada Syekh Subakir beserta para ulama untuk menyebarkan Islam di Tanah Jawa, tetapi tidak boleh dengan cara memaksa. 

Kemudian Sabda Palon juga memberi kesempatan kepada orang Islam untuk berkuasa di tanah Jawa—Raja-raja Islam—namun dengan catatan. 

Para Raja Islam itu silahkan berkuasa, namun jangan sampai meninggalkan adat istiadat dan budaya yang ada. Silahkan kembangkan ajaran Islam sesuai dengan kitab yang diakuinya, tetapi biarlah adat dan budaya berkembang sedemikian rupa. Syarat-syarat itu pun akhirnya disetujui Syekh Subakir.

Selain di Puncak Gunung Tidar, Syekh Subakir juga membersihkan beberapa tempat angker di tanah Jawa yang dikuasai para raja jin dan makhluk halus lainnya.

Dalam versi lain diceritakan untuk membersihkan wilayah Gunung Tidar dari bangsa jin, Syekh Subakir membawa senjata pusaka berupa Tombak Kiai Panjang. 

Lalu tombak pusaka tersebut ditancapkan tepat di Puncak Tidar sebagai penolak bala. Dan benar, tombak sakti itu menciptakan hawa panas yang bukan main bagi para lelembut dan bangsa jin yang berdiam di Gunung Tidar. 

Mereka pun lari tunggang langgang meninggalkan Gunung Tidar. Sebagian pengikut Sabda Palon dari bangsa jin melarikan diri ke timur dan konon hingga sekarang menempati daerah Gunung Merapi yang masih dipercaya sebagian masyarakat sebagai wilayah yang angker. 

Bahkan sebagian lagi anak buah Sabda Palon ada yang melarikan diri ke alas Roban, dan ke Gunung Srandil. 

Tombak itu sekarang masih dijaga oleh masyarakat dan ditempatkan di Puncak Gunung Tidar dengan nama Makam Tombak Kiai Panjang.

Dengan adanya tombak sakti itu, maka amanlah Gunung Tidar dari kekuasaan para jin dan makhluk halus

Karena keberhasilannya menumbal tanah Jawa lalu penyebaran Islam oleh Wali Songo periode pertama menjadi lancar. 

Nama Syekh Subakir lalu menjadi sangat terkenal dan dikagumi di kalangan para pendekar, penganut ilmu gaib dan kanuragan, bangsawan serta masyarakat di tanah Jawa ketika itu. Sehingga mereka terkesan mendewakan sang ulama asal Persia tersebut.

Akhirnya, untuk melepaskan kefanatikan masyarakat terhadap Syekh Subakir dan untuk menjaga aqidah umat Islam. Maka pada tahun 1462 Masehi, Syekh Subakir pulang ke Persia, Iran. 

Ini dimaksudkan agar kefanatikan tersebut runtuh, dan masyarakat kembali kepada tauhid yang benar. 

Selain itu tugas utama Syekh Subakir untuk membersihkan tanah Jawa dari pengaruh negatif makhluk halus telah selesai. 

Selanjutnya setelah Syekh Subakir wafat posisinya digantikan oleh Wali Songo lainnya yaitu Sunan Kalijaga. 

Wallahualam bissawab.

Sumber : 
- Jakartapress.com
- akucintanusantaraku.blogspot
- wikipedia dan diolah dari berbagai sumber

Saturday, October 20, 2018

Di Sawahlunto, Ada Destinasi Wisata Suasana Eropa

Mau berwisata cantik layaknya di Eropa? Tidak perlu jauh-jauh. Langkahkan saja kaki Anda ke Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Kota ini menawarkan sensasi Eropa kecil di tengah perbukitan.

Asisten Deputi Bidang Pemasaran I Regional I Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Masruroh mengatakan Kota Sawahlunto merupakan satu dari banyak permata yang siap naik pentas di panggung pariwisata. 

Kota mungil ini memang sudah menjadi buah bibir berkat polesan cantik di kawasan Kota Tuanya.
"Potensi besar memang dimiliki Kota Sawahlunto. Terlebih banyak bangunannya merupakan peninggalan Belanda. Tata kotanya pun dipertahankan. Udaranya yang sejuk membuat nuansa Eropa begitu terasa di kota ini," ujar Masruroh dalam keterangannya, Sabtu (20/10).

Nuansa Eropa memang begitu kental terasa di kota ini. Kesan autentik milik kolonial Belanda masih membekas kuat dengan banyaknya bangunan tua bersejarah yang berdiri di sudut-sudut kota. 

Galeri Tambang Batu Bara & Lubang Tambang Mbah Soero juga masuk dalam daftar teratas tempat wisata di Sawahlunto. Ini adalah salah satu lubang tambang yang bisa dimasuki pihak umum. 

Di seberang Lubang Tambang Mbah Soero, terdapat Goedang Ransoem. Tempat ini disebut-sebut sebagai salah satu dapur tercanggih abad ke-20. Hal ini berdasarkan jumlah pasokan makanan yang mesti disiapkan. Makanan itu harus cukup untuk memberi asupan konsumsi bagi budak tambang yang kerap disebut orang rantai.

Satu lagi tempat yang wajib disinggahi adalah Museum Kereta Api Kota Sawahlunto. Lokasinya di area Stasiun Sawahlunto yang penuh dengan catatan historis. Di sini kita bisa menyaksikan berbagai peralatan teknis yang biasa digunakan dalam dunia perkeretaapian pada masa lampau. 
"Selain itu ada beberapa bangunan bersejarah lainnya yang tak boleh luput dari kunjungan, seperti Rumah Pek Sin Kek, Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto, Gereja Katolik Santa Barbara, Gedung Koperasi UPO dan Gedung Kantor Pusat UPO," kata Masruroh.

Sawahlunto merupakan daerah penghasil batu bara sejak jaman pendudukan Belanda. Namanya terangkat karena W H de Greve berhasil menemukan potensi batu bara kota di ini pada sekitar tahun 1867. 

Daerah Tambang

Sejak saat itu Belanda memusatkan perhatian pada Sawahlunto dengan melakukan invasi pengerukan perut bumi guna mencari batu bara. Material logam ini menjadi pasokan energi utama bagi Belanda. Pembukaan lahan-lahan tambang dan perekrutan buruh tambang secara paksa pun menjadi bagian dari sejarah kelam Sawahlunto. 

Dan sisa sejarah tersebut bisa ditemui melalui beberapa bangunan penting yang menjadi saksi bisu di masa lalu. Ini semua terus dikembangkan dan dipromosikan. Salah satunya lewat Sawahlunto International Musik Festival (SIMFes). Yang tahun ini dilaksanakan tanggal 19 hingga 22 Oktober," kata Masruroh.
Dari Kota Padang, wisatawan bisa menyewa kendaraan bermotor untuk menghampiri Sawahlunto sekitar 3 jam perjalanan. Sepanjang perjalanan Anda akan disuguhkan pemandang menarik yakni melihat Kota Padang dari ketinggian.

Lantas bagaimana dengan amenitasnya? Untuk ini wisatawan tak perlu risau. Ada banyak penginapan serta hotel di Sawahlunto yang sebagian besar merupakan bangunan peninggalan Belanda.

"Pokoknya setiap sudut Kota Sawahlunto akan membawa Anda serasa di Eropa. Kunjungi Sawahlunto dan rasakan sendiri Eropa mini Ranah Minang," katanya.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya pun mengatakan dirinya takjub dengan keindahan kota ini. 

"Kota Sawahlunto memiliki potensi yang sangat luar biasa, di samping bentang alam yang indah kota ini juga memiliki nilai sejarah yang tinggi dan cukup menggambarkan bagaimana sebuah kota modern dari abad ke-19 dibangun," katanya. Jakarta, CNN Indonesia

Wonderful Huta Toba Suguhkan Nuansa Ala Eropa

Jika memiliki mimpi liburan ke Eropa, makan siang ditemani udara dingin dan segelas wine, cobalah datang ke Tapanuli Utara. Di sana ada nuansa Eropa di sekitar Toba.  

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenpar, Dadang Rizki Ratman mengatakan lokasi bernuansa Eropa tersebut terletak di Siborong Borong, Tapanuli Utara. Menurutnya, lokasi ini cukup dekat dengan Bandara Internasional Silangit.
"Enggak usah jauh-jauh ke Eropa. Di Siborong Borong, Tapanuli Utara, ada nuansa Eropa juga kok. Hanya 20 menit dari Bandara Internasional Silangit. Tim Wonderful Huta Toba yang sedang menyiapkan paket wisata 4 hari 3 malam sempat merasakan sensasi ini," kata dia, Jumat (19/10).

Nuansa Eropa itu bisa ditemukan di Piltik Homestay, kafe sekaligus penginapan. Arsitektur bangunannya terbuat dari kayu dan batu bata berwarna putih. Sekilas, bangunan tersebut mirip dengan arsitektur Eropa. 

Spot untuk berfoto pun sangat banyak dengan latar belakang persawahan. 

"Udaranya juga dingin, sekitar 19-20 derajat celcius saat siang hari. Ini Huta Toba rasa Eropa," kata Asdep Pengembangan Destinasi Regional I Kemenpar, Lokot Ahmad Enda.

Batak Taste

Di Huta Toba juga terdapat beragam aktivitas yang bisa dilakukan. Di antaranya bermain gitar, mencicipi wine bercitarasa lokal, menjelajah Piltik, menyeruput kopi, hingga mencicipi mie gomak.

Rasanya juga dijamin membuat ketagihan sebab makanan yang disuguhkan sudah dimodifikasi agar cocok di lidah wisatawan dan pengunjung. Kuncinya ada pada bahan bumbu bernama andaliman.

Pemilik Piltik Homestay, Edward Tigor Siahaan mengungkapkan wujud andaliman mirip merica dan rasanya pun tak jauh beda. Bumbu andaliman kerap digunakan untuk menaburi hampir semua makanan di Sumatera Utara sehingga sering disebut merica Batak. 

"Ini Eropean style, Batak taste," tegas Edward.

Menteri Pariwisata Arief Yahya yang pernah merasakan sensasi kuliner di Piltik Homestay pun merasa seolah diajak bernostalgia. 

"Kuliner itu dibuat secara turun temurun. Komposisi bumbu, lama menanak, besaran api, alat masak, sampai derajat kematangan itu diatur dengan rasa, tidak cukup dengan pikiran di otak kiri," jelas Arief. Jakarta, CNN Indonesia

Find Us on Facebook

Blog Archives

Visitors